Ads Right Header


Bersiap-Siap Dengan Kenaikan Iuran BPJS Naik 100 Persen

Bersiap-Siap Dengan Kenaikan Iuran BPJS Naik 100 Persen

InovasiTerbaru - Sesuai dengan judul artikelnya, kami disini akan bahas mengenai kenaikan iuran BPJS yang dikabarkan akan naik 100 persen pada tahun 2020 nantinya. Presiden Joko Widodo telah remi menanda tangani Peraturan Presiden (Perpres) terkait dengan iuran BPJS Kesehatan untuk peserta, bukan penerima upah (PBPU) dan bukan pekerja.

Dari informasi yang kami lansir dari Agen depopulsa.co, bahwa dari lembaga penyelidikan ekonomi dan masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia, program dan dengan kenaikan iuran BPJS ini tentunya akan berefek pada masyarakat khususnya yang kelah bawah sehingga dapat diprediksikan bahwa banyak peserta BPJS itu akan turun ke kelas yang lebih murah tentunya.

1. Efek iuran BPJS akan berdampak pada peserta kelas tinggi.


Dari database InovasiTerbaru yang telah merangkum seluruh informasi dari badan penelitian BPJS di Jakarta, bahwa adanya perpindahan kelas oleh para peserta BPJS yang drastis apabila terjadi kenaikan besaran iuran nantinya.

Teguh salah seorang penelitian mengatakan bahwa beliau mempunyai seluruh data panel orang yang sama dari tahun 2015 dibandingkan dengan tahun 2017, berdasarkan dengan kelas yang berbeda-beda. Dan kebanyakan itu semua turun kelas karena adanya kenaikan iuran. Apalagi pada tahun 2016 itu sempat terjadi kenaikan besaran iuran BPJS Kesehatan.

Makanya prediksi beliau itu mengatakan bahwa pada awal tahun 2020, apabila terjadi kenaikan iuran ini, maka bisa dikatakan bahwa seluruh aspek dan segmen kepersertaan akan membuat peserta pindah kelas dari yang lebih tinggi ke yang lebih rendah.

2. Meski naik harga, ini semua harus tetap berlanjut


Berdasarkan informasi kenaikan harga tersebut, Teguh dari pihak peneletian tersebut mengatakan bahwa program ini tetap harus dilanjutkan, dan BPJS tidak boleh sampai bangkrut hanya karena defisit keuangan.

Seperti penyampaian beliau, "Intinya adalah kita harus paham kita tidak bole mundur. Ini adalah sistem yang ditanam untuk masa depan, mau tidak mau, kita harus pegang ke depan memandang ini semua sebagai sebuah investasi, tentunya pasti ada dampak dan aspek negatif dan positif."

Jalan masih panjang, tentu masih ada tantangan untuk menjalankan program JKN dari sisi keuangan, luasnya kepersertaan, isu pembelian startegis dan isu urun biaya yang masih harus di maksimalkan dan masih banyak lagi yang lainnya.

3. Harus ada upaya promotif dan preventif untuk bertahan lama


Sesuatu yang bisa bertahan lama tentunya harus ada upaya promotif dan preventif tentunya, supaya ada mencegah masyarakat jatuh sakit.

Jalan terbaik dari ini semua adalah tentu adalah langkah pertama di dasari dengan pencegahan penyakit dan edukasi promosi kesehatan kepada masyarakat, jika tidak dilakukan upaya dini hari maka para peserta JKN yang sakit akan terus bertambah banyak dan akan terus membebani BPJS.

Kenapa dikatakan demikian, sebab dari data perhitungan tahun ke tahun itu terbilang terus meningkatnya jumlah iuran dari tahun ke tahun yang diakibatkan kasus penyakit di masyarakat dan terus menggunakan JKN - KIS tersebut hingga melonjak ke grafik yang cukup tinggi.

4. Terbaca iuran BPJS kelas satu akan meningkat hingga Rp 160 ribu


Dalam penetapan surat seperti yang sudah ditanda tangani oleh Presiden Joko Widodo, Perpres 75/2019, dalam rapat nasional juga kembali di bahas oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati pada bulan agustus yang lalu.

Tercatat di pasal 34 Perpres 75/2019, tertulis dengan jelas iuran kelas Mandiri III dengan layanan diruang kelas perawatan kelas III naik menjadi Rp 16.500,- yang tadinya dari Rp 25.500,- menjadi Rp 42.000,- / peserta setiap bulan.

Di sisi lain iuran kelas mandiri II dengan layanan di ruang perawatan kelas II naik dari kisaran Rp 51.000,- menjadi Rp 110.000, ini per peserta setiap bulannya. Di banding dengan iuran kepersertaan BPJS kesehatan dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan kelas I juga bukan terbilang sedikit naiknya, namun yang tadinya Rp 80.000,- naik menjadi Rp 160.000,- per peserta per bulannya. Ini semua mulai akan di berlakukan mulai 1 Januari 2020.

Demikian lah artikel ini kami perbuat berdasarkan dengan informasi yang sudah valid dan sebenar- benarnya. Semoga ini menjadi wawasan bagi para pembaca semuanya. 

CR : InovasiTerbaru™
Previous article
Next article

Belum ada Komentar

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel